Rabu, 20 Januari 2010

Lagi gak nyaman dengan Kaplan-Meier curve


Pernah dengar Kaplan-Meier curve? Pernah. Gak. Pernah. Gak. Pernah. Gak. Yah, terserah aja. Aku juga gak tau itu terkenal gak. Kalau suka dengan penelitian, analisis, telaah kritis, review, dan kegiatan ilmiah semacam itu, pastilah sering berurusan dengan tu kurva. Tapi kalau belum pernah dengar, bayangin aja orang-orang di mall turun ke lantai dasar pakae eskalator. Diumpamakan, lantai dasar tu sumbu X, eskalator itulah kurvanya.

Tapi hari ini aku lagi gak nyaman dengan tu kurva. Loh, mank napa? Dalam jurnal kesehatan, kurva ini banyak digunakan untuk menilai ketahanan hidup orang, misalnya penelitian tentang pasien jantung koroner. Ada 100 pasien dan pada semua pasien ini dilakukan penyambungan pembuluh darah. Kemudian dilakukan pengamatan selama jangka waktu tertentu katakanlah 5 tahun. Ntar ketahuan berapa yang masih survive dan berapa yang dah mati. Misalnya sesudah 5 tahun, ada 70 survive dan 30 mati. Kembali ke eskalator tadi, di puncak ada 100 orang, turun 1 tangga tinggal 90 orang, turun lagi tinggal 80…demikian seterusnya sampai dalam waktu yang ditentukan, ternyata tinggal 70 orang.


Buaanyak sekali kurva ini di jurnal-jurnal kesehatan. Jadi, banyak yang diteliti. Banyak juga yang meneliti. Kayaknya gak ada yang salah sh. Keluar dari ruang ilmiah kemarin, aku ke kantin. Sambil nunggu pesanan, aku mikir-mikir sendiri. Begitu sederhanakah hidup seseorang? Sejak titik w
aktu tertentu, kehidupannya diamati, dan sampai titik waktu berikutnya cuma mau diliat, mati gak ya tu orang? Udah mati dicatat, belum mati ya dicatat juga. Si orang itu dan dunianya menjadi kecil. Setiap jejak langkahnya selalu dalam pengawasan sepasang mata besar yang sorotnya menerangi jalan sampai ujung. Gak ada yang bisa disembunyikan. Segala sesuatu yang dilakukan manusia kecil itu gak ada artinya, gak ada yang istimewa bagi sorot mata itu. Jika manusia kecil itu mau bikin hiasan dinding, lukisan dari helai demi helai kelopak bunga yang dia kumpulkan dengan sabar dan teliti, menyusunnya dalam satu garis lengkung halus membentuk sebuah senyum untuk ditunjukkan pada sorot mata itu, tetap gak dipedulikan. Bagi sorot mata itu, hanya satu kata yang akan dia tulis di ujung waktu, hidup…atau mati. Titik.

Pastilah tidak seperti itu. Hidup kita amatlah istimewa. Penuh makna dalam tiap tawa, senyum, air mata maupun keringat. Di sisi lain, kurva itupun pastilah bermaksud baik, diciptakan oleh orang yang mencintai, menghargai, dan memaknai kehidupan. Jadi, hanyalah aku yang membutuhkan waktu untuk melihat kurva itu dengan lebih positif.

4 komentar:

Anazkia mengatakan...

wah, agak dalem banget nih penjabarannya. ampe berkerut kening.. :)

buwel mengatakan...

selalu begitu ya hidup ini... kecuali hidupnya malaikat.... :-)

Hendriawanz mengatakan...

Anazkia
iya mb, gak kebayang berapa kerutan untuk terciptanya kurva ini..

Hendriawanz mengatakan...

buwel
begitulah :) tp yang penting kita menjalani hidup kita dengan penuh makna.