Selasa, 19 Januari 2010

Keempat-empatnya..




Pastilah dah banyak yang dengar tulisan-tulisan tentang 4 jenis manusia berdasarkan tau dan tidak taunya. Tapi sekarang aku gi mikir, kenapa harus dibagi ya? Manusia kan tidak begitu aja lahir langsung dapat label salah satu dari 4 jenis itu. Bahkan sampai sekarang pun kita bergelut dengan ke-4 nya. Jadi kupikir pembagian itu hanyalah semacam penyederhanaan untuk presentasi atau laporan atau yang sejenisnya, seperti halnya panitia pertunjukan seni mempresentasikan proposal bahwa nanti akan ada tiket VVIP, VIP, dan biasa, sedangkan dalam kenyataannya seseorang bisa aja beli yang manapun. Ketika beli tiket VIP lalu masuk ke tempat duduk VIP, baru lah dapat label penonton ‘VIP’.

Yah, just for refreshment, keempat jenis tu, manusia yang :
1.tau di taunya
2.tau di tidak taunya
3.tidak tau di taunya
4.tidak tau di tidak taunya

Maunya sih ke no 1 dan 2, tapi sempurnakah kita? Seseorang yang tau di taunya menjadikan dia mantap, tidak ragu-ragu, tenang, yakin, percaya diri bisa menempatkan diri di tempat yang semestinya, yang mana dengan itu orang lain merasa dihargai dan oleh karena itu juga timbul rasa segan dan menghargai.

Seseorang yang tau di tidak taunya juga sama, tetapi titik beratnya pada awareness, orang seperti itu aware terhadap sekelilingnya dan tidak sombong, tidak merasa hebat, menyadari dia memiliki kekurangan sekaligus tercermin adanya kekuatan untuk memperbaiki kekurangan itu. Tidak mudah. Sekedar menyadari kekurangan diri pun ada kalanya susah.

Tidak tau di taunya. Manusia memiliki masa lalu, pernah minder, pernah menyesal, terucap, “Mengapa…? Padahal….” Dalam kondisi seperti ini akan terasa benar makna kasih sayang dan kesabaran.

Tidak tau di tidak taunya. Sudah dibilangin, ngeyel. Merasa sudah pernah ikut satu pelatihan, ketika ikut pelatihan yang sama, gak pernah datang, kalaupun datang kerjaannya ngobrol sana-ngobrol sini sambil menerangkan ini itu ke teman-temannya, dianggapnya teman2 itu pendatang baru semua. Padahal …ternyata itu betul pelatihan yang sama, tetapi materinya bersifat lanjutan dari pelatihan sebelumnya, dengan tujuan pendalaman hal-hal yang lebih spesifik. Dan teman2 yang dianggapnya pendatang baru ternyata justru telah mendapat ilmu lebih dan memiliki pengalaman mengikuti pelatihan lebih banyak. Nah lo.

Sungguh beruntung aku diingatkan untuk introspeksi seperti ini…

16 komentar:

Fanda mengatakan...

Wah, makasih udah diingatkan utk introspeksi diri.

Anazkia mengatakan...

Tapi terkadang, saya sering menjadi yang ke 3 dan ke 4 :(

Henny Y.Wijaya mengatakan...

yang susah kalo tidak tahu ditahunya. :)

tikno mengatakan...

Wah... saya juga merasa beruntung diingatkan oleh posting ini.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, aku termasuk yg mana ya?

Hendriawanz mengatakan...

mb Fanda
Makasih ya mb, sudah mampir. Ditunggu mb review berikutnya,usul mb, sesudah samurai, tentang ninja, sepertinya sejarahnya bersambungan (usul ngawur, mank ada bukunya..? hehehe)

Hendriawanz mengatakan...

mb Ana
Jadi ingat Thomas Alva Edison, orang besar yang belajar dari kegagalan2.

Hendriawanz mengatakan...

mb Henny
iya..paling sial kalau gabung dengan no 4..hehe

Hendriawanz mengatakan...

tikno
Makasih sudah mampir mas. Oya, in When I'm Getting Old, what felt is deeper than what written.

Hendriawanz mengatakan...

mb fanny
mana aja mb. ke no 1&2 aja mb..hee

reni mengatakan...

Semoga aku masuk ke no. 1 dan 2 aja deh. Amin.

Hendriawanz mengatakan...

mbReni
Iya mb. Amiin.

Newsoul mengatakan...

Siiip. Masuk yang manakah kita, mari kita renungkan.

anyin mengatakan...

yaps.. yang membentuk kesemuanya adalah linkungan, kondisi dan faktor2 lain

Hendriawanz mengatakan...

Newsoul
Jadi ingat artikelnya bu Elly, Jika-Maka. Kalau boleh nambah: Jika menyediakan waktu untuk merenung, maka akan mendapat hikmat.

Hendriawanz mengatakan...

mb anyin
termasuk lingkungan keluarga kan mb? thx