Minggu, 17 Januari 2010

Ikhlas..?

Ikhlas…sulitkah?

Aku lagi merenung ini, dan memang ikhlas itu kadang sulit, sangat sulit dilakukan. Sering memang ini terucap di bibir. Berapa kali di radio atau tipi-tipi, terutama dalam acara rohani, ikhlas ini dikumandangkan. Tapi kenapa harus berkali-kali? Apakah tidak cukup satu kali? Yah, nyatanya memang gitu. Berkali-kali pun kita masih berusaha bergelut untuk memenangkan diri.

Aku membayangkan, ini karanganku sendiri, satu anak jalanan ketabrak mobil, nggak ada yang menolong. Mobil terus meluncur kencang. Terluka parah, patah tulang. Untuk membawa ke rumah sakit, orang mungkin masih mikir, nanti kalau ditanya siapa yang bertanggung jawab, terutama pembayarannya… lhah siapa? Kalau nganter aja nggak boleh? Kalau nganter berarti juga harus nanggung sampai korban keluar rumah sakit? Trus tiba-tiba ada yang nggak nggubris pertanyaan2 kayak gitu, dia, sebut aja si B, bawa tu si A ke rumah sakit. Bener, di situ dia ditanya ini-itu, termasuk siapa yang mbayar. Si B bilang, gak apa2, saya yang bayar. Si A mana tau proses itu, dia mengerang2 di ruang tindakan. Lagi pula kalau mikir2 sendiri, gak mungkin lah dia ke rumah sakit. Dari dulu kalau sakit juga memang gak ada pikiran ke rumah sakit. Takut mahal. Sekarang, pun ketika kepala berdarah, tulang patah, dia pun gak kepikiran ke sini. Mati? Lhah hidup pun dia bingung mau ngapain.

Singkat cerita, si A dioperasi, dan operasi berjalan baik. Selama perawatan di bangsal, dia masih bisa mikir dan menghitung berapa hari baring di situ, berapa piring makan yang sudah diantarkan. Tapi lebih dari itu, terutama tentang mbayar berapa, dia gak berani mikir. Dan pada hari yang ditentukan, dia boleh pulang. Maksudnya kembali ke tempat dia mangkal. Sampai saat begini pun, si B tetep ngurusi. Dia yang mbayarin biaya rumah sakit. Walaupun si B ini gak banyak cakap. Jarang juga ngobrol sama si A, tanya tentang kehidupan sehari2nya. Si B lebih banyak berbuat.

Biaya total jelas jutaan, tapi si B juga gak pernah ngasih tau ke si A. Dan si A juga gak tau kalau semua udah di bayarin si B. Waktu pulang, bukannya si A gak tau kalau di rumah sakit tu mbayar. Tapi dia mikirnya...mungkin rumah sakit lupa menagih karena pasien terlalu banyak. Dia was-was kalau suatu saat ditagih, mana berani ke tempat pembayaran, dan dia harap2 semoga si petugas rumah sakit terus lupa. Alhasil, dia gak kan pernah tau kalau biaya udah bener2 dibayar, udah bener2 lunas, oleh si B. Padahal, seandainya tau, beribu ucapan terima kasih pun kalau diitung dengan uang, tetap si B gak kan dapat ganti dari si A. Ini jauh dari mungkin akan keluar ucapan terima kasih dari si A, tau bahwa dia dibayarin aja gak.

Ikhlaskah si B dengan kondisi ini..? Kita manusia memang lemah dan harus banyak belajar..

11 komentar:

Newsoul mengatakan...

Postingan mantap. Ikhlas itu sulit. Tapi sangat bisa kita upayakan. Yang tidak boleh adalah kita berkata "saya sudah ikhlas melakukan...bla-bla-bla". Sebab apakah perbuatan kita sudah termasuk ikhlas atau belum, hanya Dia yang tau jawabannya. Setau saya lho Hen. Bisa jalan-jalan kesini deh http://newsoul-sayangidirimu.blogspot.com/2009/09/ikhlaskah-kita.html

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

memang gak mudah ya. kadang kita cuma bisa ngucapin aja.

Ica Puspita mengatakan...

IKLAS... itu [agak] sulit memang. Tapi ada lho orang yang bilang iklas itu bisa dilatih, seumpama kalo di kantong celana ada duit 200, 1000, dan 10ribu. datang pengemis. kasih aja duit yang 10ribu. perkara iklas ga iklas itu nanti yang penting dilatih dulu hati ini, lama2 pun kalo kebiasaan bisa iklas... ^^

*Salam kenal~IcaPuspita~

a-chen mengatakan...

Iyya bisa dikatakan ikhlas juga Mas Si B itu, khan dikisahnya Si B itu baik nggak ada tendensi apa2 tuk menolong si A.. ;-)

Hendriawanz mengatakan...

Newsoul
Barusan dari sana.
Seolah-olah, saya membaca artikel itu dulu baru merenungkan dan menulis ini, walaupun yang terjadi sebetulnya sebaliknya. Betul2 bertautan. Terima kasih.

Hendriawanz mengatakan...

mb fanny
yah, gitulah mb..

Hendriawanz mengatakan...

Ica Puspita
Hmm..ini juga masuk perenungan. Makasih mb. Eh ya salam kenal juga.

Hendriawanz mengatakan...

a-chen
Yah, untuk jadi si B ini harus berusaha betul..Makasih atas masukannya.

reni judhanto mengatakan...

Tak mudah untuk berbuat ikhlas... tapi setiap manusia diharapkan mampu melakukannya.
semua perlu proses pembelajaran.

Hendriawanz mengatakan...

mb reni
amien..

fi biangliliana mengatakan...

wah,iya,,ikhlas itu tdk gampang (._.")\