Rabu, 09 Maret 2016

Gerhana Matahari Total bagi saya

Tulisan ini sekedar curahan hati saya tentang Gerhana Matahari Total (GMT), jadi kalau berbeda dengan apabila ditulis oleh orang lain, ya..wajar saja..
Bagi yang tidak menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT) secara langsung, anda tidak sendirian. Saya juga tidak menyaksikannya, tadi. Pertama, respon saya terhadap kabar tentang GMT tidak begitu kuat. Maksud saya, benar-tidaknya GMT akan tepat melintas...jauuuhhh... di atas kepala saya, benar-tidaknya GMT tadi sama dengan GMT yang saya alami di Jogja tahun 1983, saat saya masih kecil, benar-tidaknya wilayah dimana saya berada saat ini -- yang diberitakan bahwa itu tidak termasuk dalam garis edar GMT – akan mengalami juga suasana GMT yang sama sehingga kami di sini juga kebagian..turut merasakan..suasana GMT, kabar-informasi itu semua tidak jelas, atau mungkin tidak lengkap, dan benak saya menangkapnya demikian adanya. Kedua, saya tidur bukan lagi di malam tetapi sudah memasuki sekitar jam 1-an dini hari dan bangunnya sudah jam 8-an lewat, yang mana saya pikir GMT nya kalau lewat sini belum mulai. Ternyata sudah. Jam GMT nya sudah lewat. Mungkin berkaitan dengan yang pertama itu sehingga informasi dan konfirmasi jam GMT tidak saya usahakan cari. Sebetulnya yang saya sebut bangun ini adalah “get up” nya sedangkan “wake up”nya, lebih awal...Suara guntur menggelegar berkali-kali.. mobil yang terparkir di dekat bangunan tempat saya tidur, menyalak, membunyikan alarm nya dengan garang setiap kali guntur menggelegar...langit masih gelap seperti fajar yang belum hadir...saya tangkap dengan segenap indera saya..mem-back up kesadaran saya...(terima kasih Tuhan, ku mengalami kejadian GMT dengan cara-Mu).
 Ya..dikatakan GMT ini menjadi spesial karena langka nya. Ada yang bilang 33 tahun baru terjadi lagi. Ada yang bilang 350 tahun. Yang pasti, tidak seperti suasana yang kita rasakan sehari-hari. Dan pemberitaan yang begitu gencar tentang GMT juga turut membangun kondisi GMT jangan sampai tidak diikuti. Tapi saya rasa ini tidak dimaksudkan untuk mengecilkan hati bagi orang-orang yang tidak mendapatkan kesempatan serupa. Merasa kehilangan momen, tidak mendapatkan momen yang langka, kemudian merasa menjadi orang yang tertinggal, tidak memiliki sesuatu yang telah dimiliki oleh orang lain...dst. Rasa itu bisa saja timbul, kita manusia. Tetapi ada begitu banyak hal spesial, langka bagi kita masing-masing secara pribadi. Kelahiran kita, orang-orang di sekeliling kita, waktu-waktu yang kita jalani, spesial dan langka bagi kita. Apa yang kita alami tidak dialami oleh orang lain. Mungkin, bahkan tidak akan terulang. Oleh karena itu jika tidak dapat menyaksikan GMT sebagaimana orang-orang lain di seberang sana, masih banyak ‘GMT-GMT’ lain dalam hidup kita. Pun demikian, siapa bilang kita semua tidak mengalaminya? Mungkin tubuh jauh, tetapi spirit tetap mampu mengalami momen GMT. Sebagaimana orang-orang yang kehilangan penglihatan, mereka tidak buta, mereka hanya tidak bisa melihat. Jika Tuhan menghendakinya, apakah yang tidak mungkin? Dan yang lebih penting dari itu, makin nyata kemuliaan-Nya, kuasa-Nya, cinta kasih-Nya dan rencana-Nya yang indah bagi kita masing-masing.

4 komentar:

Rezky Pratama mengatakan...

bersyukur masih bisa melihat gerhana matahari.....

Elsa mengatakan...

Assalamualaikum Pak Hendriawanz... apa kabar?
lama sekali gak posting di blog
(hehehe... sama, saya juga begitu)

btw, nanti malam ada gerhana bulan
kalo kemaren heboh gerhana matahari
kayaknya gerhana bulan yang sekarang sedang terjadi saat sata menulis komen ini, kurang mendapatkan perhatian.
kasihan ya si bulan

ninda mengatakan...

mas hendri apakabar? semoga sehat2 saja ya
lama nggak nulis disini

Inuel mengatakan...

Mas Hendri.. Ayo bw lagi :D